Senjata
- ⚔️Gergaji mesinLEG.
- ⚾Pemukul berpakuLANGKA
- 🧹SapuUMUM
Tidak ada yang bisa memastikan dari mana semua ini bermula. Ada yang bilang seekor tikus besar keluar dari gorong-gorong di Kota Tua, matanya putih seperti susu basi, dan menggigit kaki seorang pedagang asongan. Yang lain bersumpah bahwa sebuah kontainer dari Tanjung Priok bocor di tengah malam, isinya cairan kehijauan yang baunya seperti durian busuk dicampur solar. Rumor ketiga, dan yang paling aneh, menyebutkan seorang dukun di Gang Mangga Dua yang mencoba menghidupkan ayam mati dan malah menghidupkan sesuatu yang lain. Yang pasti, itu hari Selasa, jam lima sore, dan Jakarta macet seperti biasa.
"Saat malam tiba, Monas masih bersinar di atas Lapangan Merdeka, menyepuh kota yang tidak ada lagi kehidupan tersisa di dalamnya. Jalan Thamrin, kosong, dipenuhi kereta bayi yang terbalik dan kartu Jaklingko yang ditinggalkan. Dan dalam kegelapan, dia lapar."
Dari katana hingga boneka Billy. Dari tank tempur hingga kurcaci taman. Setiap penyintas membawa 3 item: pilih dengan bijak. Buka peralatan baru dengan mendapatkan pengalaman.
Makanan menjadi karya seni. Moral tim tidak pernah turun di bawah 60%.
Tim yang masih punya info dari dunia lama bertahan lebih lama. Masuk untuk mengaktifkan bonus permanen.
Mahkota memaksa rasa hormat bahkan dalam kekacauan. Pemimpin memancarkan kehadiran, tak ada yang mempertanyakan perintahnya.
▌ DARI 0 KE 1200+ · DARI "MAKANAN ZOMBIE" KE "MODE DEWA"
Jalankan simulasi. Temukan Survival Score kamu. Bagikan tim. Setiap keputusan penting. Setiap hari membawamu lebih dekat ke MODE DEWA — atau kematian.
▌ 4 siaran untuk dibaca sebelum membentuk tim
Stasiun Sudirman penuh sesak. KRL dari Bogor baru tiba, dan penumpang tumpah ke peron seperti air yang meluap dari ember. Di gerbong tiga, seorang pria berseragam ojol tiba-tiba menggigit bahu penumpang di sebelahnya. Orang-orang mengira itu keributan biasa, mungkin copet yang tertangkap, mungkin penumpang yang kepanasan. Petugas keamanan berlari dengan peluit di mulut. Peluit itu tidak pernah berbunyi untuk kedua kalinya. Dalam empat menit, peron satu dan dua sudah tidak bisa dibedakan antara yang menunggu kereta dan yang menunggu korban.
Di permukaan, orang-orang di trotoar Jalan Sudirman masih sibuk dengan layar ponsel mereka. Sebuah video muncul di TikTok, durasi dua belas detik. Seorang ibu-ibu berkerudung sedang memukul seseorang dengan payung lipat di depan Bakmi GM Sudirman, tapi yang dipukulnya tidak jatuh-jatuh. Caption-nya, ibu-ibu Jakarta emang beda. Tiga juta views dalam delapan menit. Kolom komentar penuh emoji tertawa. Yang di video sudah tidak tertawa lagi.
Pukul 18.47, Gubernur mengadakan konferensi pers darurat di Balai Kota. Situasi terkendali, ini hanya tawuran yang meluas, warga diminta tetap tenang. Pukul 19.15, Balai Kota gelap. Pukul 20.02, nomor 112 hanya menjawab dengan nada sibuk. Twitter resmi Pemprov DKI masih membahas program normalisasi sungai.
Jakarta tidak bisa ditutup. Tujuh belas juta orang tersebar di kota yang dibangun di atas rawa. Jalan-jalannya macet dalam keadaan normal, apalagi dalam keadaan panik. Jika Anda memblokir Jalan Thamrin, mereka akan mengalir lewat gang-gang sempit Tanah Abang. Jika Anda menutup tol dalam kota, ojek-ojek akan menembus jalan tikus yang tidak ada di Google Maps. Banjir saja tidak bisa menghentikan Jakarta bergerak. Apalagi zombie.
Kota Tua jatuh pertama. Gang-gang sempit peninggalan Belanda yang romantis di Instagram berubah menjadi lorong-lorong tanpa jalan keluar. Museum Fatahillah yang megah menjadi jebakan bagi para wisatawan yang berlari masuk mencari perlindungan. Pintu-pintunya kokoh, tapi jendela-jendelanya tidak. Cafe Batavia, yang sudah berdiri sejak zaman kolonial, akhirnya tutup untuk selamanya.
Tanah Abang, pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara, berubah menjadi labirin kematian. Para pedagang yang terbiasa berteriak menawarkan dagangan kini berteriak untuk hal yang berbeda. Kain-kain bermeter-meter menjadi jerat bagi yang berlari. Beberapa pedagang dari lantai tiga melempar gulungan kain ke bawah, mencoba membuat barikade. Itu menahan mereka selama sebelas menit.
Di Menteng, rumah-rumah besar pejabat memiliki pagar tinggi dan satpam bersenjata. Satpam-satpam itu berdiri tegak selama tiga puluh menit. Lalu pagar-pagar itu hanya menjadi penghalang bagi yang mencoba melarikan diri dari dalam. Di Kemang, para ekspatriat mengunci diri di rooftop bar. Mereka minum Bintang terakhir mereka sambil menonton kota runtuh dari atas. Bir-nya habis lebih cepat dari harapan mereka.
Bundaran HI menjadi arena. Patung Selamat Datang masih mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menyambut tamu yang tidak pernah diundang. Air mancur masih menyala, cahayanya memantul di genangan yang bukan air. Di sekeliling bundaran, bus Transjakarta berhenti satu per satu, penumpangnya keluar, tapi bukan untuk transit.
Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara, menjadi benteng terakhir bagi ribuan orang. Kubahnya yang megah menaungi doa-doa yang semakin lirih. Di seberang jalan, Katedral Jakarta sama sunyi. Dua rumah ibadah yang selalu berdampingan, kini berdampingan dalam keheningan yang sama.
Monas masih berdiri. Obor emasnya masih berkilau di puncak, menerangi kota yang sudah mati. Tugu 132 meter yang dibangun untuk menandai kemerdekaan, kini menandai sesuatu yang lain. Di dasarnya, di ruang diorama, sejarah Indonesia masih terputar dalam kegelapan, diceritakan kepada ruangan yang kosong.
Jakarta tidak pernah tidur, kata orang. Malam ini Jakarta tidak tidur. Jakarta hanya diam. Tujuh belas juta mulut terbuka. Untuk menggigit.